Tetap semangat dan pantang menyerah dalam kadaan sesulit apapun, teruslah berusaha dan berdoa.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Minggu, 26 Mei 2013
Buku Kumpulan Cerpen
Pesan Segera, Buku Cerpen "Kleptomania”
Kumpulan cerpen pilihan Lomba Cipta Cerpen Tingkat Pelajar, Mahasiswa/Umum Se-Indonesia 2013. Harga: Rp53.000 (di luar ongkos kirim). Tebal buku 352 halaman. Pemesanan Call langsung 0812 5982 1511.
Berikut judul cerpen dan nama penulis buku ini:
1. Anak Jalanan (Adli Zuliansyah Putra)
2. Aku Bisa, Gus! (Iik Zakiah Darajat)
3. Kupu-Kupu Jingga (Budianto Supar)
4. Isak Tangis Mbok Tijah (Amiruddin Awalin)
5. An-Nisa, Menatap Rembulan Separuh (Muhammad Sofyan Arif)
6. Ketika Rongsokan Menjadi Cita-Cita (Willy Ramadhan)
7. Merasa Dirinya (Rahmat Sahri Ramadani)
8. Kilasan Mata Jahannam (Bimo Logo Pribadianto)
9. Sebungkus Nasi yang Basi (Khairatul Ukhti)
10. Mobil-Mobilan untuk Didik (Intan Puspita Dewi)
11. Dia Terus Melangkah Tanpa Kaki (Muhammad Abrar)
12. Kakak Harus Jadi Orang Kaya! (Susi Sulistilawati)
13. Aisyahku Sayang (Zesty Giarni Werti)
14. Cambuk Rotan Emak (Puji Astutik)
15. Aku Hanya Ingin Pintar, Mak (Nenny Makmun)
16. Curam (Dodi Saputra)
17. Lelaki Tua Pemulung Botol Air Mineral Bekas (Leni Sundari)
18. Gadis Kecil Penghias Malamku (Desy Rohmawati)
19. Piagam untuk Emak (Dedi Saeful Anwar)
20. Langit Cinta (Tiara Satya Ningsih)
21. Selendang Putih untuk Ibu Amidah (Hasan Asyhari)
22. Kenapa Namaku Alya? (Dewi Ari Ari)
23. Alif Nun di Ufuk Senja (Farihatun Nafiah)
24. Menanti Keajaiban Datang (Mocca Al Kahvy)
25. Menggapai cita-cita (Mellania Fitri Ardita)
26. Pemulung Dilarang Masuk, Pemulung Dilarang Sakit! (Firtia Ayu Lintasari)
27. Impian Hanifah (Rahimah Ib)
28. Bungaku Masih Belum Mekar (Chaya Keenanisa)
29. Rinai (Ridha Sri Wahyuni)
30. Layang-layang Senja (Warno Adi Susilo)
31. Kleptomania (Nopiah Widaningsih)
32. Sepasang Anting Ibu (Fatih El Mumtaz)
33. Di Atas Kardus Bekas (Fathromi R)
34. Nyanyian Pria Kecil di Rumah Singgah (Riezky Vieramadhani Poetry)
35. Tanah Surga (R Bagus MEP)Minggu, 03 Februari 2013
Antalogi Puisi Kedua
Antalogi Puisi Bukittinggi Ambo di Siko adalah karya dari 39 penyair Nusantara. Puisi-puisi yang menggambarkan tentang keindahan alam kota Bukittinggi yang dikenal sebagai Paris van Andalas. Kota yang terkenal sebagai tempat kelahiran bapak Proklamator kita Bung Hatta. Dan kota ini terkenal juga sebagai kota Sejarah. Di tempat ini pula kita bisa menikmati kuliner yang menggugah selera.
Bagi anda yang berminat bisa langsung dipesan buku Puisi "Bukittinggi Ambo di Siko" karya 39 Penyair Nusantara. Tebal 172 halaman. Harga Rp 41.000. Pemesanan FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com.
Minggu, 13 Januari 2013
Kejora Yang setia berpijar
Buku antalogi Puisi Kejora yang Setia Berpijar. Dengan tema Pahlawan di mataku. Pahlawan di mata para penyair. Karena sesungguhnya pahlawan bukan hanya orang yang berperang melawan para penjajah. Tapi siapa pun bisa menjadi pahlawan. Bagi yang penasaran dengan isi buku antalogi puisi ini. Langsung saja pesan
Bagi yang berminat untuk membeli buku antologi puisi "Kejora yang Setia Berpijar,"
Hasil karya dari 50 Penyair muda Indonesia. Harga per eksemplar Rp
45.000 (belum termasuk ongkos kirim). Pemesanan buku silakan hubungi
nomor 081259821511 atau kirim pesan melalui email
forumaktifmenulis@yahoo.com. Salam santun, salam karya
Sabtu, 05 Januari 2013
Cinta Kasih Ibu
Ibu
dimataku adalah sosok wanita yang sangat kuat dan tegar. Tidak pernah mengenal
lelah dan mengeluh. Dengan kekuatan cintanya dia mampu mengurus rumah, mengurus
kami anak-anaknya, dan membantu ayah mengurus kebun, ladang dan sawah.
Dibalik semua itu dia memiliki kelembutan,
yang mampu memberikan ketenangan saat aku berada di dekatnya. Memberikan rasa
nyaman dan damai saat aku berada dalam pelukannya. Tatapan matanya mampu
menyejukan hati. Dia membimbing dan membesarkanku dengan penuh cinta dan kasih.
Saat
aku bahagia, ibu adalah orang pertama
yang akan ikut bahagia. Saat aku bersedih beliau akan mengusap air mataku.
Dengan tutur katanya yang lembut dan gurauannya yang mencoba untuk menggodaku
akan mengembalikan senyumanku.
Saat
aku sakit, ibu dengan kesabaran dan ketelatenannya akan mengurus dan merawatku
sampai aku sembuh. Terkadang beliau sendiri tidak pernah menghirau rasa lelah
pada dirinya. Saat beliau sakit pun tidak pernah mau tinggal diam. Dia tetap
melaksanankan tugas rutinnya sebagai seorang ibu.
Ibuku
adalah seorang manager handal yang mampuh mengolah dan mengatur keuangan
keluarga. Saat perekonomian keluarga mengalami kemunduran karena hasil panen
yang didapat tidak memuaskan. Ibu dengan sigap akan berusaha mencari uang tambahan,
agar kami bisa tetap sekolah dan tidak kekurangan sandang pangan.
Aku
masih ingat saat, perkebunan ayah hancur diserang oleh gajah. Dan saat itu
ekonomi keluargaku benar-benar hancur. Ibu tetap tegar dan berusaha membuka
warung kecil-kecilan dan mengatur keuangan yang ada agar tetap mencukupi untuk
biaya sekolah dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Satu
hal yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Pagi itu ibu memasak nasi
hanya sedikit, karena persedian beras kami habis. Ibu membagikan nasi ke piring
kami dan ayah. Dan piring ibu tidak terisi. Dengan senyum yang masih mengembang
dari bibirnya, dia menyuruh kami untuk makan. Ibu bilang kalau dia masih
kenyang karena tadi malam sahur dan hari ini akan puasa sunah hari Senin. Saat
itu aku tahu kalau ibu berbohong. Aku hanya bisa menatap ibu dengan linangan
air mata. Saat itu ingin rasanya aku menjerit, aku tak sanggup melihat
penderitaan ibu. Walau pun beliau tidak pernah memperlihatkannya.
Sabtu, 29 Desember 2012
Minggu, 23 Desember 2012
Kamis, 20 Desember 2012
Selasa, 18 Desember 2012
Oh....My Dear
Jemari jemari kecilnya menari nari diwajahku,menjelajahi setiap lekuk wajahku, kecupan2 lembutnya mendarat dikening,pipi dan hidungku,tatapan polosnya menggodaku,tangan kecilnya memelukku, direbahkan kepalanya didadaku,suaranya berbisik memanggilku ibu........
Rasa lelah dan penatku setelah kerja seharian hilang mendengar tawanya yg riang dan menatap wajahnya yg tenang duhai buah hatiku sayang.
Laki-Laki Aneh Yang Menyebalkan
Saat aku kelas 2 SLTA,
aku pindah sekolah ke SMAN 1 Kota Agung Lampung Selatan. Sebagai anak baru aku
harus pandai-pandai beradaptasi dengan teman dan lingkungan baruku.
Teman sebangkuku
bernama Yuli dia sedang naksir anak kelas 2 Bahasa. Dia bilang anaknya tampan
dan cool. Dan dia berjanji kepadaku jika anaknya lewat depan kelas kami dia
akan memberitahuku.
Betul saja begitu si
anak lewat depan kelas kami dia langsung memberitahuku, kebetulan anak itu
lewat bersama temannya. Memang betul apa yang dia bilang kalau anak Bahasa yang
dia incar itu memang tampan. Sedangkan teman yang berjalan besamanya wajahnya sangat bertolak belakang. Maka teman
kami yang bernama Yati bilang. “Kenapa kamu gak naksir temannya saja Yul.”
Seketika Yuli marah-marah, melihat sikapnya seperti itu tawa kami pun meledak.
Hal itu membuat kedua orang yang sedang kami bicarakan menoleh ke arah kami.
Itu membuat kami berhenti tertawa. Tapi tidak bisa menyembunyikan senyum kami.
Kejadian itu seketika
dapat kami lupakan, karena kami rasa itu hanya candaan semata, jadi tidak penting
untuk diingat.
Hingga saat malam
Minggu tiba. Aku yang sedang asyik tidur-tiduran di kamar sambil membaca novel.
Tiba-tiba ibu memanggiku dan bilang kalau ada temanku yang datang. Aku sempat
heran, “teman? Siapa temanku datang dimalam Minggu begini? Aku belum mempunyai
banyak teman karena baru satu minggu sekolah.” Celotehku dalam hati.
“Bu, yang datang
laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki, dua orang
tuh sudah nunggu di depan.”
“Hah ... laki-laki?
Siapa?” karena penasaran aku langsung bergegas ke teras depan.
Saat aku melihatnya,
aku merasa bingung. “Siapa yah laki-laki ini? Sepertinya aku pernah melihatnya?
Tapi dimana?” pertanyaan-pertanyaan itu berkecambuk dalam hatiku.
“Maaf Mas, Mas ini
siapa yah?” tanyaku pada kedua laki-laki yang kini sudah duduk di depanku.
“Akukan teman satu
sekolah kamu, masa kamu gak inget sih?” jawab laki-laki yang terlihat sangat
cupu. Dengan baju kemeja yang dikancing sampai leher, rambut dibelah tengah dan
terlihat sangat kelimis. Berkulit hitam dan memakai minyak wangi yang baunya
sangat menyengat hidung, membuat perutku menjadi mual.
“Maaf ya Mas, aku anak
baru dan baru seminggu masuk sekolah. Jadi aku belum kenal semua, jangankan
yang beda kelas, yang satu kelas pun aku belum kenal semuanya.” Kataku sambil
terus memperhatikan dandanan cowok itu yang terasa sangat aneh. “Di jaman
sekarang ini, kok masih ada ya orang yang seperti ini,” pikirku dalam hati.
“Ah ... Mbak ini lupa,
apa pura-pura lupa?” katanya sambil tersenyum genit kepadaku. Tingkahnya itu
membuat bulu kudukku jadi merinding. Dan berkali-kali aku mengucapkan
“amit-amit” dalam hati.
“Maaf Mas, apa yah
maksudnya? Aku beneran gak kenal sama Mas dan aku gak ngerti apa maksud ucapan
Mas tadi?” kali ini nadaku agak meninggi karena agak jengkel.
“Mbak ... akukan sering
lewat depan kelas Mbak, dan setiap aku lewat. Kulihat mbak selalu
memperhatikanku sambil senyam-senyum. Itu berarti Mbak diam-diam naksir aku.
Jadi aku datang ke rumah Mbak maksudnya mau bilang. Kalau Mbak naksir sama aku
bilang aja, gak usah malu-malu.” Kata cowok itu sambil terus bertingkah genit.
“Gubrak.” Aku langsung
tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa berulang-ulang mengucapkan Istighfar
dalam hati. “ Ya ... Allah, mimpi apa aku yah? Kok tiba-tiba aku mengalami hal
yang seperti ini, jangankan mau naksir cowok ini. Ngeliatnya aja “enggak banget
deh.” Celotehku dalam hati. Tapi aku langsung ingat kejadian waktu Yuli
memberitahuku laki-laki yang menjadi incarannya. Berarti laki-laki yang di
depanku ini temannya.
“Maaf ... Mas, Mas
salah pengertian. Teman aku naksir temannya Mas, bukan aku naksir Mas.”
“Ah ... Mbak ini suka
malu-malu. Sekarangkan gak ada teman Mbak, jadi terus terang saja kalau Mbak
suka sama saya.”
“Terserah mas deh, mau
percaya apa Gak. Yang jelas aku gak suka sama Mas, titik.” Kataku dengan nada
tinggi karena sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. Dan aku segera pergi
meninggalkan laki-laki itu dengan perasaan jengkel yang luar biasa.
Keesokan harinya
kedatangan laki-laki aneh yang menyebalkan itu, kuceritakan pada Yuli dan Yati.
Untuk kali ini akulah yang menjadi bahan tertawaan mereka. “Huh ... aku jadi
sebel, sudah jatuh tertimpah tangga pula.” Gerutuku.
Pengobatan Kelenjar Teroid Dengan Habatusauda
Setelah
melahirkan anak kedua , tiba-tiba tumbuh
dua benjolan sebesar baso di leherku. Aku
periksa ke dokter umum langgananku, benjolan itu dipegang oleh dokter,
lalu aku disuruh menelan ludah dan benjolan itu ikut bergerak. Dia langsung
bilang kepadaku kelenjar teroidku membengkak.
Dokter
memberiku obat dan antibiotik, dia bilang kalau dengan minum obat tersebut kelenjarku menghilang
atau mengecil,
dia menyuruhku untuk kembali berobat
padanya jika obatnya sudah habis. Tapi kalau
tidak ada perubahan aku dianjurkan untuk konsultasi dan berobat ke dokter ahli
bedah dalam, dan dia pun memberikan surat rujukannya.
Setelah
satu Minggu obat dari dokter pun habis, tapi ternyata tidak terjadi perubahan
apa-apa pada benjolanku. Aku pun mulai resah, berarti aku harus berhubungan
dengan dokter ahli bedah dalam. Langsung terbayang
kemungkinan terburuk yang akan kualami, operasi. Hal itu yang paling
kutakutkan.
Suamiku
terus mendesakku agar segera periksa ke dokter ahli bedah dalam, sementara aku
sibuk memutar otak, mencari cara agar tidak berhubugan dengan dokter tersebut.
Tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk mencoba obat-obatan herbal. Aku memeinta
tolong suamiku untuk mencarikan di internet obat herbal yang bisa menyembuhkan
kelenjar teroid. Suamiku bilang yang gampang didapat adalah Habatusauda dan
Mahkota Dewa.
Sebetulnya
suamiku ragu akan keputusanku mengunakan
obat herbal untuk penyembuhan ini, dia khawatir cara ini tidak berhasil,
sementara kelenjar teroidku semakin hari akan semakin membesar. Tapi aku
berusaha untuk meyakinkannya. Dengan berusaha dan berdoa Insya Allah semuanya
akan bisa kita atasi, dengan ijinNya aku pasti bisa.
Aku
memilih Habatusauda karena lebih mudah
didapat dan mudah diminum karena berbentuk
kapsul. Saat suamiku membelinya, si penjual menyarankan kalau untuk pengobatan,
minum minimal lima kapsul, sehari 3
kali.
Aku
mulai mengkonsumsi Habtusauda sesuai anjuran si penjual. Dua minggu berlalu,
belum ada perubahan apa pun pada benjolanku, tapi aku merasa ukurannya masih
tetap, tidak semakin
membesar. Sebulan sudah
kini aku mengkonsumsi Habatusauda, walau pun ukurannya masih tetap sama tapi
aku merasa benjolanku jadi agak lembek.
Setelah
satu bulan setengah berlalu, aku merasakan sakit disekitar telinga dan rahang .
Saat kukatakan hal itu kepada suamiku, dia semakin cemas. Dia menganjurkanku
untuk segera konsultasi ke dokter ahli bedah dalam. Tapi aku tetap pada
pendirianku. Aku percaya aku pasti bisa melalui semuanya tanpa harus ke dokter bedah
dalam apalagi sampai operasi.
Dua
bulan kurang satu minggu aku mengkonsumsi
Habatusauda, berbotol-botol sudah
kuhabiskan. Sore itu aku sedang ngobrol dengan suamiku, tak sengaja tanganku meraba
benjolan di leherku, aku merasa dia sudah mengecil dan saat dipegang lembek,
tapi aku semakin merasakan sakit di telingaku.
Aku
bilang pada suamiku tentang hal itu, dia tetap menyarankanku untuk ke dokter.
Malamnya karena merasakan sakit di telinga dan rahang atasku setelah minum
Habatusauda aku tidur.
Keesokan
harinya aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Saat kupegang leherku ternyata
benjolan itu sudah tidak ada. Alhamdulillah akhirnya benjolan itu hilang juga.
Aku bersyukur karena aku bisa melewati semuanya. Saat ini untuk pencegahan aku
masih tetap meminumnya
hanya 3 butir sebelum tidur.
Selasa, 18 September 2012
Hati Yang Terluka
Cinta yang telah terjalin selama 2 tahun begitu indah dan meninggalkan kenangan yang sangat manis, sebelum akhirnya semua menghancurkan dan meluluh lantahkan hatiku
Aku seorang mahasiwa disalah satu universitas negeri di jakarta, selain kuliah aku juga kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Dityempat kursus bahasa Inggis aku bertemu seorang wanita cantik, kami pun berkenalan dan dalam waktu kurang dari satu bulan kami pun resmi pacaran.
Hari - hari yang kami lalui begiru indah, Sinta adalah seorang wanita yang sangat dewasa dan mandiri, dia selalu memberiku suport untuk maju, selain itu dia pun seorang wanita yang penuh perhatian, aku merasa sangat beruntung bisa mendapatkan sosok seorang wanita yang sempurna seperti dia.
Aku sudah mengenal seluruh keluarganya, mereka semua begitu baik kepadaku , rasanya diriku sudah sangat mantap dan tak ingin menggantikan posisi Sinta dengan wanita mana pun, ingin rasanya aku segera menyelesaikan kuliahku, mendapat pekerjaan dan segera meminang pujaan hatiku.
Sinta selalu ingat akan momen - momen penting tak jarang dia memberiku kejutan dan hadiah, sebuah jam tangan yang sangat indah itu adalah hadiah yang paling aku suka darinya karena dibalik jam itu terukir namaku dan namanya.
Tak terasa hubungan kami berjalan hampir dua tahun, selama itu tak pernah ada pertengkaran atau apa pun yang mengarah keretaknya hubungan kami.
Dua bulan lagi adalah ulang tahun Sinta dan saat itu juga tepat 2 tahun hubungan kami, aku telah menyiapkan sebuah kejutan yang sangat indah, aku sudah tak sabar rasanya menanti saat itu.
Satu bulan sebelum hari ulang tahunnya Sinta berpamitan kepadaku dia akan pergi ke Jepara untuk beberapa Minggu, dia bilang kakeknya sedang sakit dan sebagai cucu paling tua dan paling disayang dia merasa bertanggung jawab untuk mengurus kakeknya, awalnya aku merasa kecewa, tapi kupikir tak apalah, malah aku lebih bisa konsentrasi mempersiapkan surprice untuknya.
Sepasang cincin tunangan yang sangat indah telah kusiapkan, tempat yang sangat romantis pun telah kusiapkan, malam itu akan menjadi malam yang sangat bersejarah dalam hidupku, karena pada malam itu akan kupinang dia dan kusematkan sebuah cicin indah dijari manisnya.
Hari yang kutunggupun tiba, aku mencoba menelpon Sinta, apakah dia sudah pulang dari Jepara atau belum? dia bilang padaku, baru tadi pagi dia sampai Jakarta, aku bilang padanya kalau nanti malam aku akan menjemputnya untuk mengajaknya makan malam, dia mempesilahkan aku untuk datang ke rumahnya.
Dengan perasaan rindu yang menggebu tak sabar rasanya aku ingin segera sampai ke rumah Sinta, sesampainya disana seperti biasa keluarganya menyambut kedatanganku dengan hangat.
"Sinta sedang mandi, tunggu aja di ruang tamu Dre," kata mamanya sambil tersenyum.
"Makasih tante." kataku sambil duduk.
Seorang laki - laki tampan yang baru pertama kali kulihat menghampiriku dan mengajakku berkenalan.
" Hallo, temannya Sinta? kenalkan aku Hendri." katanya seraya tersenyum sambil menjabat tanganku, belum sempat aku bicara, tiba - tiba Sinta muncul dihadapan kami, dia duduk disebelah Hendri, pemandangan itu sedikit janggal bagiku, tiba - tiba hatiku bertanya - tanya "siapa Hendri sebenarnya???" tanyaku dalam hati.
"Mas teman kuliahnya shinta?" tiba - tiba pertanyaan laki - laki itu membuyarkan lamunanku.
"Bukan, teman kursur?" kataku sambil sesekali memandang ke arah sinta yang sedari tadi hanya diam, tiba - tiba lelaki itu menggengam tangan Sinta dan menciumnya mesra, bumi tempatku berpijak ini seolah akan runtuh, dadaku bergemuruh hebat entah perasaan apa yang kurasakan saat itu.
"Oh...iya saya lupa, kenalkan mas saya suaminya Sinta, kami baru 2 minggu menikah,kami berpacaran sejak masih SLTA, sebelum aku melanjutkan kuliah di luar negeri kami bertunangan, dan setelah kuselesaikan semuanya kami tak ingin membuang waktu, kami pun langsung menikah, kata laki - laki itu serasa merangkul dan mencium mesra kening Sinta, seakan disambar petir disiang bolong rasanya, aku tak mampuh berkata apa - apa, kalau tidak mengingat diriku adalah seorang laki - laki ingin rasanya aku menangis sejadi - jadinya, ingin rasanya kumaki Sinta yang telah membohongiku selama ini, apa salahku padanya?? kenapa dia setega ini padaku?? kenapa dia hancurkan hati, perasaan dan kepercayaanku kepadanya??? kenapa tidak dia bunuh saja aku sekalian??? agar dia benar - benar puas, tapi aku berusaha menguasai diri dan emosiku, aku mencoba tersenyum, aku sendiri tidak tahu senyuman seperti apa yang tersungging dari bibirku, senyuman yang terpapar dari sebuah hati yang tengah remuk redam.
"Selamat ya untuk kalian berdua, sekalian aku mau pamit," kataku seraya berdiri dan berlalu dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
"Andre..tunggu, aku ingin menjelaskan semuanya," tiba - tiba terdengar suara Sinta menghentikan langkahku.
"Semuanya sudah jelas, apalagi yang mau dijelaskan? lupakan semua yang sudah berlalu, semoga kamu berbahagia."kataku sambil terus berjalan, ingin rasanya aku menangis, menangisi kebodohan diriku yang terlalu percaya dan terlalu yakin akan cintanya Sinta, selama ini aku tak menyadari kalau Sinta tak ubahnya bagaikan mawar berduri, begitu cantik dan indah untuk dipandang tapi akan menusuk dan melukai saat kita genggam, ditengah perjalanan aku teringat akan jam tangan yang diberikan Sinta untukku, dengan penuh emosi kucampakan jam itu sama seperti Sinta yang tanpa perasaan mempermainkan dan mencampakanku begitu saja.
Sejak saat itu aku mencoba untuk mawas diri, mungkin selama ini aku terlalu mencintai Sinta sehingga Allah menegurku, karena tak seharusnya aku mencintai sesama melebihi cintaku pada Sang Kholik.
Langganan:
Postingan (Atom)















