Selasa, 21 Agustus 2012

Dia Pergi Saat Dipelukanku

Aku seorang pemuda yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, tapi alhamdulillah Allah memberiku banyak kelebihan sehingga aku menjadi manusia yang istimewa dimata teman - teman sekolahku, kalau tidak apalah jadinya diriku yang sekolah di sekolah elite dan berteman dengan anak -anak orang kaya mungkin mereka akan meremehkan aku dan takkan memandangku sebelah mata, untuk itu aku tak henti - henti bersyukur kepada Allah atas segala karunia - Nya.

Ada seorang wanita cantik yang selalu berusaha mendekatiku, berbagai cara dia lakukan agar selalu berdekatan denganku, mulai dari mengajak belajar bersama sampai meminta aku menjadi guru privatenya, ya ...Allah aku bingung menghadapinya, bukannya aku tidak tahu bagaimana perasaan dia kepadaku dan bukan juga aku tidak suka sama yang namanya wanita cantik karena aku juga laki - laki normal yang butuh kasih sayang seorang wanita, tapi saat ini yang kuinginkan hanyalah belajar dan terus belajar, aku ingin menjadi orang yang sukses, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, hanya itu.

Amanda nama wanita cantik itu dia anak tunggal salah satu konglomerat terkaya di negeri ini, dia selalu mempunyai cara untuk membuatku selalu berada disisinya tanpa bisa menolak.
"Irwan, kamu maukan jadi guru private matematik aku?'
"Gimana ya Manda?"
"Ayolah... please, kan uangnya lumayan buat  tambahan uang saku kamu."
"Ya ...sudah,"
"Nah gitu donk, nanti sore aku tunggu di rumah yach." katanya sambil berlalu dari hadapanku.
"Tapi manda......."
"Udah....ga usah pake tapi-tapi."

Sore harinya aku  pergi ke rumah Manda untuk memenuhi janjiku menjadi guru lesnya, rumah sangat mewah yang dijaga oleh satpam, hampir saja aku mundur karena tidak mempunyai keberanian untuk memasuki rumah itu, tiba - tiba seorang satpam menghampiriku.
"Mas yang bernama Irwan yach?"
"Iya pak."
"Silahkan masuk mas, non Manda sudah menunggu di dalam." akupun diantar sampai dalam oleh satpam itu, ternyata Manda sudah menungguku.
"Hai...akhirnya kamu datang juga," katanya seraya menarik tanganku dan mengajakku ke atas.
"Mau kemana Manda?"
"Ke kamarku."
"Apa?" tanyaku seraya menghentikan langkahku, melihat mimik wajahku dan tingkahku seperti itu Manda tertawa.
"Tenang aja Irwan aku gak bakal ngapa - ngapain kamu kok, aku cuma mau kamu jadi pengajar aku, aku juga tahu kamu orang alim dan taat beribadah makanya aku suka sama kamu."

Akhirnya aku benar - benar resmi jadi guru private buat Amanda, malah aku sudah kenal dengan kedua orang tuanya, mereka begitu baik kepadaku, dan alhamdulillah uang hasil ngajarku bisa untuk memenuhi keperluan sekolahku.

Kini kami sudah berada di kelas 3 SMA, kira - kira empat bulan lagi akan menghadapi ujian.
"Setelah lulus kamu mau kuliah dimana Wan?"
"Entahlah Manda, aku akan kuliah atau mencari pekerjaan,"
"Kenapa? sayang loh kalau kamu tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, terbentur masalah biaya? kalau masalah itu tidak usah kamu pikirkan, aku sudah ngomong sama Papi, dan tanpa aku pinta papi bersedia membiayai kuliah kamu, karena papi melihat potensi yang begitu besar dalam diri kamu."
"Tapi Manda....gak mungkinlah aku gak enak sama orang tua kamu."
"Loh kenapa harus ada perasaan gak enak? kamukan tidak pernah memintanya, orang tuaku sendiri yang dengan suka rela mau membiayai kuliah kamu, kita akan kuliah di Jerman, itu yang papiku bilang."
Aku hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun, " pokoknya kuharap tidak ada penolakan disini, kan kamu sendiri yang bilang kepadaku kamu ingin menjadi orang yang sukses dan ingin membahagiakan kedua orang tuamu, sekarang kesempatan itu sudah ada didepan mata jangan sampai kamu menyia - nyiakannya."

Setelah pembicaran kami waktu itu entah kenapa aku tidk pernah melihat Manda disekolah dan seorang satpam utusan papinya bilang ke aku untuk sementara tidak usah datang dulu ke rumahnya untuk memberi les. ada apa sebenarnya? apakah dia marah padaku? ach...entahlah, aku jadi bingung dibuatnya.

Waktu ujianpun Manda tidak muncul, tapi aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu, aku harus konsentrasi belajar, mungkin setelah selesai ujian nanti aku akan datang ke rumahnya.

Ketika  selesai ujian,  saat aku sedang berkumpul dengan teman - temanku didepan kelas tiba - tiba wali kelasku datang menghampiriku dengan seorang laki - laki.
"Irwan , bapak ini ingin bertemu denganmu, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan."
"Ada apa pak?" tanyaku pada lelaki itu.
"Ini tentang non Manda, dia meminta anda untuk menemuinya."
"Manda? sebenarnya ada apa dengannya pak?"
"Lebih baik anda ikut saja dengan saya, nanti anda akan tahu sendiri."
Akupun ikut dengan lelaki itu untuk menemui manda, ternyata aku diajak ke rumahnya Manda, rumah yang bebera bulan terakhir ini tak pernah aku kunjungi, lelaki itu mengantarkanku ke atas ke kamarnya Manda, kulihat disana ada kedua orang tuanya, tapi ada yang aneh dengan kamar itu sekarang, kamar Manda sekarang lebih mirip dengan kamar di rumah sakit, semua peralatan medis seperti dipindahkan kekamar itu.

Seorang wanita kulihat terkulai lemas di tempat tidur, beberapa selang infus terpasang dilengannya, selang oksigenpun terpasang dihidungnya, sedangkan kepalanya botak, siapa dia gunamku, tiba - tiba hatiku tersentak " Manda....." yach dia Manda, ya...Allah apa yang terjadi dengan dia?
"Apa yang terjadi dengan Manda om, tante?" kedua orang tua itu terlihat sangat sedih.
"Manda terkena leukimia stadium akhir, dokter bilang umurnya tidak akan lama lagi."
" Ya...Allah kenapa bisa jadi begini?"
"Entahlah Wan, kamipun tidak mengerti."

Tiba - tiba Manda membuka matanya, dia kelihatan begitu bahagia saat melihat kehadiranku, kedua orang tuanya segera meninggalkan kamar.
"Apa kabar Wan?"
"Baik Manda."
"Kalau aku sekarang seperti ini Wan, aku jelek yach sekarang?"
"Tidak Manda, kamu masih sama seperti dulu,kamu masih tetap cantik." kulihat dia hanya tersenyum.
"Tapi Wan, aku sudah tidak kuat lagi, aku sudah sangat capek, tubuhku ini sudah tidak sanggup lagi untuk disuntik dan disuntik terus, dan juga sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya kemo, aku ingin istirahat Wan, aku ingin pergi."
"Manda sudahlah , aku mohon jangan berpikir macam - macam, yakinlah kalau kamu akan sembuh."
"Tidak Wan, waktuku sudah tidak lama lagi, lihat mereka sudah menjemputku , sebelum aku pergi aku minta maaf karena aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk bersama - sama kuliah di Jerman, tapi aku harap kamu tidak menolak kebaikan papiku dan ada satuhal lagi yang ingin kusampaikan padamu, satu hal yang selama ini kusimpan dalam hatiku, tapi kali ini aku ingin kamu tahu, aku sangat mencintaimu Wan, aku tidak meminta kamu untuk membalas cintaku, saat ini aku hanya ingin kamu memeluk aku dan membimbing aku saat kembali menghadap - Nya."

Tanpa banyak bicara langsung kupeluk tubuhnya, yang sangat kurus dan terlihat sangat lemah, kubisikan ditelinganya  "laa ilaaha illallaah Muhammadur Rusulullaah."
Tiba - riba tubuh itu terkulai lemas "innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un," tak terasa air matapun menetes.dia pergi saar dalam pelukanku, selamat jalan Manda, terima kasih atas semuanya, terima kasih karena kau telah membuat hari - hari ku lebih berwarna dan lebih indah.

Akupun diangkat anak oleh orang tuanya Manda, sesuai keinginan Manda akupun melanjutkan kuliah ke Jerman, dan kini aku sudah menjadi orang sesuai harapanku dan Manda.




Jumat, 10 Agustus 2012

Bidadari Kecilku

  Orang bilang cinta pertama itu sangat indah dan tidak bisa dilupakan, memang benar sekali itu juga yang aku rasakan sampai saat ini. Cinta pertamaku bersemi saat aku duduk di bangku SMP, tepatnya aku mulai pacaran waktu aku duduk di kelas 3 SMP.


 Gadis itu begitu manis, cantik dan periang itu yang membuat aku jatuh hati padanya, ia bernama Nita, semakin lama hubungan kami semakin akrab dan menjelang lulus – lulusan SMP kamipun jadian, dan kami memutuskan untuk melanjutkan ke SLTA yang sama.


 Masa – masa pacaran kami rasakan begitu indah di awal perjalanan kami di bangku SLTA, sampai akhirnya kami terlibat kesibukan diorganisasi yang berbeda, aku sibuk di OSIS dan Nita sibuk di Pramuka. Sehingga volume pertemuan kamipun semakin berkurang, bahkan kami berdua semakin jarang berkomunikasi. Seorang gadis cantik  bernama Ayu  temanku di OSIS, yang belakangan ini  sering terlihat bersamaku, dimana ada aku pasti ada Ayu, begitu juga sebaliknya, hingga timbullah rumor kalau kami berdua pacaran, tapi aku hanya menanggapi semua dengan senyuman karena dihatiku sudah ada seorang Nita yang sampai saat ini posisinya dihatiku tidak bisa digantikan oleh siapapun.


Walaupun aku dan Nita terlihat jarang bersama karena kesibukan kami masing – masing bukan berarti semuanya telah merubah tentang perasaanku paadanya, sampai kapanpun Nita tetap BIDADARI KECILKU, tidak akan ada yang bisa mengubah itu semua kecuali Allah berkehendak lain.


Kamipun naik kelas dua SLTA, perjalan cintaku dengan Nita tidak ada yang berubah, kami tetap saling mencintai walaupun tidak pernah terlihat bersama dan hubunganku dengan Ayu semakin terlihat akrab,walaupun berbagai rumor terdengar disana sini aku tak memperdulikannya, karena aku memang tidak mempunyai perasaan apa – apa terhadap Ayu, dan tentang Nita aku rasa dia bisa mengerti tentang keadaan ini, hingga suatu pagi temanku Andre memberiku sepucuk surat.
 “ Ren, ini ada surat titipan dari Nita, dia menitipkannya padaku kemarin, tapi dia memintaku untuk menyerahkan surat ini padamu hari ini,” kata Andre seraya memberikan sepucuk surat berwarna biru muda kepadaku, sementara aku masih terheran – heran memandangi surat yang berada ditanganku, ada apa ini? Tidak biasa – biasanya Nita seperti ini, biasanya dia akan ngomong langsung kepadaku jika ada masalah, dengan perasaan yang berkecambuk kubuka surat itu pelan – pelan, karena selama aku pacaran baru kali ini aku mendapatkan surat dari pacarku.


 Dear Rendy,

 Aku tahu semua ini akan terasa begitu berat bagi kita, tapi aku rasa mungkin inilah jalan yang terbaik , karena kulihat kamu sudah mempunyai penggantiku,  semakin lama hubungan kita berdua semakin jauh,  hatiku terasa sakit sekali, aku tahu mungkin kamu sulit untuk mengambil keputusan, maka biarkan aku yang memutuskan untuk pergi, aku pindah sekolah ke kota lain, aku harap kalian berdua bahangia.

 Yang mencintaimu

 NITA  


Tiba – tiba badanku terasa seperti tak berdaya, aku terduduk lemas dikursi kantin sekolah, tak terasa air matakupun menetes, entah apa yang dapat kuperbuat saat ini, berjuta penyesalan berkecambuk dihatiku, berjuta pertanyaan “mengapa…..mengapa…. dan mengapa “ mengeluti perasaanku. Ternyata kesibukanku selama ini telah membuat bidadari kecilku berlalu, sampai – sampai aku tidak tahu kalau dia akan pindah sekolah, padahal di papan pengumuman didepan ruang guru jelas – jelas tertulis nama Nita dan 2 temannya yang lain yang akan pindah sekolah, padahal aku setiap hari melewati papan itu, tapi aku tidak pernah memperdulikan semuanya termasuk perasaan kekasihku sendiri, yang mungkin selama ini merasakan perasaan yang teramat sakit mendengar rumor tentang aku dan Ayu, aku terlalu percaya kalau dia akan baik – baik saja.


 Ternyata memang Ayu menaruh hati padaku, dia mengungkapkannya padaku yang membuatku sangat kaget, dengan sangat hati – hati kutolak cintanya, akupun tak ingin menyakiti perasaannya, karena aku sudah menganggapnya sahabat baikku, agar aku tidak sering berkomunikasi dengan Ayu, akupun memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan OSIS dan berkonsentrasi untuk belajar.


 Aku sudah berusaha mencari tahu tentang keberadaan Nita dari keluarganya, tapi rupanya memang Nita sudah tidak ingin berhubungan lagi denganku, semua keluarga yang aku tanya hanya bilang kalau Nita sekarang ada di Kalimantan bersama orang tuanya, dikota ini Nita tinggal bersama om dan tantenya, sayangnya tidak satu orangpun yang bersedia memberikan alamat lengkapnya.


Selulus dari SMA aku kuliah dikedokteran, saat ini aku hanya berkonsentrasi belajar dan belajar, aku hanya ingin menjadi orang yang sukses, dan kesuksesanku nanti akan kupersembahkan untuk bidadari kecilku, akan kubuktikan padanya kalau aku tidak pernah menghianati cintanya.

 Kini aku sudah menjadi seorang dokter specialis anak yang terkenal di Jakarta, karierku benar – benar sukses tapi sayang tidak diiringi dengan suksesnya kisah cintaku, sampai saat ini aku belum bertemu juga dengan Nita, entah dimana dia, padahal setiap pulang ke kotaku aku selalu mampir ke rumahnya tapi dia tidak pernah pulang, sedih rasanya hatiku kenapa semuanya menjadi begini, begitu besarkah bencinya kepadaku sehingga dia tidak ingin menemuiku lagi.


 Sehabis lebaran Idul Fitri tahun ini akan diadakan reuni SMP pertama, tiba – tiba aku seperti mempunyai secercah harapan, harapan untuk bertemu Nita, aku berharap dia akan hadir diacara reuni itu, aku sengaja melibatkan diri menjadi panitia untuk reuni nanti, agar aku gampang untuk mengecek siapa – siapa saja yang terdaftar untuk ikut reuni nanti, tapi ternyata harapanku hanya tinggal harapan sampai hari H nya tiba nama Nita tidak juga terdaftar, putus asa kini menyelimuti perasaanku.


 Acara reuni yang ditunggu – tunggupun tiba, tapi ternyata Nita tidak pulang itu yang kudapati saat aku ke rumah tantenya semalam, sejak saat itu juga aku sudah tidak punya harapan lagi untuk bertemu dia, hampa rasanya hatiku, gairah hidupku rasanya sirna.


Acara reuni berlangsung sangat meriah, semua teman SMPku datang, sejenak bisa kulupakan kesedihanku, apalagi saat memasuki acara inti yaitu acara hiburan untuk sementara hilang sudah rasanya beban daihatiku.


Tiba – tiba MC naik ke panggung dan bilang kalau ada seseorang yang ingin menyumbangkan sebuah lagu berjudul The Power Of Love dari Celine Dion, yang dia persembahkan untuk seseorang yang dia sayang, secara sepontan semua mata tertuju ke arah panggung, semua ingin tahu siapa yang akan tampil, tiba – tiba seorang gadis cantik naik ke atas panggung, spontan aku terperanjat bagai disengat lebah, ingin rasanya aku berteriak karena kegirangan, itu dia……. Itu bidadari kecilku, dia berada disini….. dia sedang menyanyikan sebuah lagu dan aku yakin sekali lagu itu dia persembahkan untukku.


 Aku tak mau melepaskan pandanganku dari panggung, karena aku takut dia akan menghilang lagi dari pandanganku, setelah selesai menyanyi dan turun dari panggung langsung kuhampiri Nita, diapun tersenyum manis menatapku.
 “Halo pak dokter apa kabar?” sapanya yang membuatku sangat kaget, darimana dia tahu kalau aku ini seorang dokter, apa mungkin dari keluarganya? Gunamku dalam hati.
 “Baik, kapan datang? Semalam aku ke rumah kamu tidak ada.”
 “Baru tadi pagi, tante juga cerita kalau semalam kamu ke rumah.” Akupun mengajaknya mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol.
 “Nit…kamu datang sama siapa?”
"Berdua.”
 “Berdua??? Dengan siapa??”
 “Supir…” jawababnya samabil tertawa.
 “Kamu ini dari dulu gak pernah berubah yach…, sukanya ngeledek.”
 “Kamu sendiri gandengannya mana?? yang lain kulihat sudah punya ganndengan.”
"Ini disebelahku….” Jawabku ringan sambil kulirik dia,  dia hanya tersenyum. “Ngomong – ngomong dari mana kamu tahu kalau aku dokter?”
 “Tahu donk, akukan berteman dengan kamu di FB.”
 “Apa……????? Maksud kamu, kita berteman di FB dan kamu memakai nama samaran begitu ??? Sudah berapa lama?” tanyaku dengan nada tinggi.
 “Iya….. semenjak kita kuliah.” Jawabnya sambil tertunduk.
"Ya  ampun kamu...aahhh, kamu tahu gak Nit?  aku ini sudah seperti orang gila mencari tahu dimana  keberadaan kamu, sementara kamu …….!!!!!!!!!!” “Maaf……” katanya lirih sambil tetap tertunduk.
"Maaf.....????? mudah sekali kamu bilang begitu." ku tatap dia dengan perasaan tidak karuan, tiba – tiba kulihat butiran - butiran bening menetes, membuat hatiku tersentak dan spontan kupeluk dirinya.
"Jangan…jangan menangis Nit, aku tak sanggup melihat kamu menangis, lupakanlah semua yang sudah berlalu, mari kita mulai lagi lembaran baru , yang pasti penantian cintaku sekarang berakhir sudah, dengan kehadiranmu disisiku bidadari kecilku dan kini cinta kita sudah kembali dalam genggaman.”

Sabtu, 28 Juli 2012

Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu

Arman adalah anak yang pandai dan berprestasi, dari mulai SLTP sampai Kuliah dia mendapat bea siswa, seharusnya dia sekarang sudah mendapat pekerjaan yang enak. Tapi sayang prestasinya yang dia capai membuat dia menjadi durhaka kepada ibunya, dia merasa pintar sedangkan ibunya orang bodoh karena ibunya hanyalah pedagang sayuran keliling.


 Nasehat ibunya tidak pernah dia dengarkan, bahkan tak jarang bila dinasehati malah marah - marah dan membentak - bentak ibunya, si ibu hanya bisa mengelus dada dan kadang dia sampai menangis.


Arman dengan berbekalkan gelar Insinyur mencari pekerjaan kesana sini, dari melamar kerjaan lewat internet sampai melamar langsung ke perusahaan - perusahaan besar sampai perusahan kecil tapi hasilnya tetap nihil, semua berujung dengan penolakan.


 Setahun...dua tahun...tiga tahunpun sudah berlalu, Arman tidak juga mendapatkan pekerjaan, gelar Insinyur yang dia sandang seolah tidak ada artinya apa - apa, kepintaran yang selama ini dia banggakan juga tidak bisa menolongnya, dia menjadi seorang pengangguran.


 Si Ibu merasa prihatin melihat keadaan anaknya seperti itu, tapi sayangnya kesombongan Arman tidak juga hilang dengan keadaanya seperti sekarang ini dia tetap saja tidak menyadari kekeliruannya, dia malah menyalahkan ibunya yang membawa sial sehingga dia tidak kunjung juga mendapatkan pekerjaan.


Hati seorang ibu walaupun sering disakit oleh anaknya tetap saja selalu memaafkan tanpa harus dipinta, kasih sayang ibu tidak akan pudar sepanjang masa, si Ibu selalu mendoakan Arman dalam hatinya  tetapi tetap saja Arman belum juga mendapat pekerjaan.  Hati si ibu menjadi sangat sedih melihat anak tercintanya menjadi pengangguran, setiap hari sholat Dhuha dan meminta kepada Allah agar dibukakan pintu rezeki bagi anaknya, setiap malampun dia bangun melaksanakan sholat Tahajud dan memohonkan ampun bagi segala kesalahan - kesalahan anaknya. Tapi rupanya Allah belum membukakan juga pintu rezeki  bagi Arman, tetapi si ibu tidak pernah putus asa untuk selalu berdoa.


Suatu hari Arman bilang kepada ibunya minta uang dengan jumlah yang cukup besar kepada ibu untuk keperluan melamar pekerjaan, dia baca di koran ada sebuah perusahaan asing yang menerima lowongan pekerjaan.


Menadengar jumlah uang yang disebutkan Arman si ibu sangat kaget, hampir separuh dari modal dagangnya dia, tapi tidak apa - apalah yang penting anaknya berhasil, pikir si ibu dalam hati.   Besok anaknya akan melamar pekerjaan si ibu sepanjang malam tidak henti - hentinya berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah agar anaknya diterima bekerja. Setelah sholat Subuh si ibu mencuci kakinya dengan segayung air, tetapi air cucian kakinya ditampung dalam sebuah baskom, setelah itu airnya dimasak dan dengan air itu dibuatnya segelas teh manis.


Arman sudah rapih dan siap - siap untuk berangkat melamar kerja, si ibu datang dengan segelas teh hangat, "minum dulu teh ini Man agar perutmu hangat, dan mudah - mudahan kamu diterima kerja nanti." Tanpa banyak bicara Armanpun meminum habis teh hangat yang diberikan ibunya, setelah itu dia berpamitan.


Sore hari Arman datang membawa kabar gembira bagi sang ibu, dia lolos saat test pertama di perusaan asing tempat dia melamar kerja, si ibupun sangat bersuka cita, tak henti - hentinya dia panjatkan rasa syukurnya kehadirat Illahi Rabbi, dan 2 hari lagi anaknya harus datang untuk tes ke 2.


Hari yang ditungupun tiba, seperti biasa sebelum anaknya berangkat test malamnya si ibu sholat tahajud dan tak henti - hentinya berdoa buat si anak, setelah sholat subuh si ibu kembali mencuci kakinya dan air cucian kakinya ditampung disebuah baskom lalu dimasak dan dibuatlah segelas teh dan teh tersebut diberikan kepada Arman sebelum dia berangkat test, dan lagi - lagi Arman lolos test ke 2 , dua hari lagi harus datang kembali untuk test yang ke 3.   Sebelum  Arman pergi untuk test yang ketiga si ibupun melakukan rutinitasnya membasuh kakinya dan membuatkan teh anaknya, dan alhamdulillah Arman diterima menjadi manager di perusahaan asing tersebut, berita ini sungguh membahagiakan bagi si ibu.


  Disuatu kesempatan si ibu memanggil Arman dan diajaknya berbicara. "Arman bersyukurlah pada Allah yang telah membukakan pintu rezekimu nak, ada satu hal yang ibu ingin bicarakan kepadamu, ridho Allah adalah ridho ibu, begitu juga sebaliknya ridho ibu adalah ridho Allah, janganlah kau menyakiti hati ibumu ini lagi sebab Allah akan murka kepadamu, bertobatlah nak, walaupun aku selalu memaafkanmu tetapi kalau tidak pernah terucap kata maaf dari mulutmu Allah tidak akan membukakan pintu maaf bagimu nak, sesungguhnya air teh yang aku berikan setiap kamu akan pergi test itu adalah air basuhan kakiku, mungkin karena itulah Allah telah membukakan pintu rezekimu, ibu hanya berharap kamu menjadi anak yang sholeh selalu rendah hati, menyadari semua kesalahanmu dan selalu minta maaf atas semua perbuatan yang telah kamu perbuat terhadap orang lain." Mendengar semua perkataan ibunya Arman langsung bersimpuh dikaki ibunya, dia meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dia perbuat terhadap ibunya.  

Kamis, 19 Juli 2012

Apa Salah Kami Mah?

            Trauma yang kualami sejak kecil, hingga dewasa sekarang masih melekat dalam ingatkanku dan tak mudah untuk kulupakan begitu saja. Yang membuat hatiku teramat sakit karena mamaku sendiri yang menorehkan luka ini dihatiku.


          Maya kecil yang seharusnya dimanja - manja dan disayang - sayang oleh mama, bahkan mungkin untuk kebanyakan orang tua anak pertama itu menjadi kebanggaan dan menjadi tumpuan perhatian dan kasih sayang, tetapi sayangnya itu tidak kualami dan tidak kurasakan.  


          Mamaku entah dengan alasan apa dia telah menterlantarkan aku dan adikku, padahal hubungan mama dan papa baik - baik saja dan merekapun menikah atas dasar cinta, tetapi mengapa mama seperti tidak menginginkan kehadiran  kami dalam hidupnya.

  
           Maya yang masih bayi tidak pernah dibawa kedokter, puskesmas atau posyandu untuk diimunisasi, mungkin hanya imunisasi pertama yang kudapatkan yaitu imunisasi yang kudapatkan saat aku baru dilahirkan, bukan karena masalah materi karena papaku seorang wiraswastawan yang cukup berhasil, makanya papa sering meninggalkan kami untuk urusan bisnisnya diluar kota, sehingga papa tidak pernah tahu perlakuan mama kepadaku.


          Tubuhku sangat kurus karena aku sering terserang diare dan tubuhku sangat rentan oleh penyakit, saat aku berusia 2.5 tahun aku belum bisa berjalan dan belum bisa bicara, hingga suatu hari tiba - tiba badanku terkena panas tinggi dan kejang - kejang, untung waktu itu papa sedang ada di rumah, sehingga dengan sigapnya papa membawaku ke rumah sakit.


          Aku sempat koma 3 hari, disaat aku koma itulah tante dari papaku datang, mama dan papaku habis - habisan dimarahi oleh tanteku, "kalau kalian tidak bisa mengurus anak ini, nanti kalau dia sembuh b iar aku yang mengurusnya," ujar tanteku dengan geramnya sedang papa sama mama hanya tertunduk diam, rupanya tenteku mencari tahu semuanya dari pembantu kami.


         Tiga hari sudah aku koma, tanteku menangis tersedu - sedu sambil menggenggam tangan mungilku," Maya cepat sembuh yach sayang....nanti kalau sudah sembuh Maya tinggal sama tante saja, tante tidak tega melihat keadaan kamu seperti ini nak." Tantepun berdoa pada Allah " ya ...Allah seandainya anak ini masih bisa sembuh, sembuhkanlah dia dan biarkan hamba yang merawatnya, namun bila sudah tak mungkin lagi untuk sembuh, ambilah dia ya ....Allah, tapi jangan siksa dia seperti ini." Tiba - tiba tangan mungilkupun bergerak dan tantekupun sangat bahagia, akhirnya akupun siuman dari koma.



         Tapi ternyata penderitaanku tidak hanya sampai disitu, karena umurku sudah 2.5 tahun lebih belum bicara tante memeriksakanku ke THT, ternyata dari situ diketahui bahwa aku memiliki masalah dengan pendengaranku itu yang menyebabkan aku tidak bisa berbicara, gangguan pada pendengaranku bukan bawaan dari lahir, dokter bilang karena aku sering kena panas tinggi, atau mungkin ada kesalahan waktu mama memandikan aku dan membersihkan kupingku, seharusnya orang tuaku mengetahui ini sejak awal, dan akupun harus rutin terapi, kalau tidak aku akan menjadi tuna rungu dan tuna wicara . Begitu telatennya tanteku selain ke THT aku juga dibawa ke ahli gizi, aku bisa dibilang kekurangan gizi, sehingga badanku sangat kurus dan kakiku tak cukup kuat untuk berjalan, karena belum mendapatkan imunisasi akupun dibawa ke dokter anak setiap bulan untuk diimunisasi, tanteku betul- betul menjadi malaikat penolong bagiku, kalau tidak ada dia entah apa yang terjadi padaku, kemungkinan buruknya aku meninggal, kemungkinan lainnya aku akan menjadi anak cacat.


          Pada saat umurku 4 tahun aku sudah bisa berjalan dan pendengaranku pun mulai membaik, sehingga aku mulai bisa bicara, tapi yang kuherankan mamaku masih tetap tidak perduli denganku malah sepertinya sangat senang dengan tidak adanya aku disisinya.   Mamaku hamil lagi saat usiaku hampir 8 tahun, saat itu aku sudah duduk di kelas 3 SD, aku sudah tumbuh menjadi anak yang normal, alhamdulillah Allah telah menolong aku lewat tanteku tercinta.


          Aku sangat senang waktu mama melahirkan, ternyata mama memberiku adik laki - laki yang sangat tampan dan montok, aku sering diantarkan tanteku untuk menemui adik dan mamaku, atau kalau papa sedang tidak keluar kota papa yang menjemput aku pulang ke rumah, kalau malam aku kembali pulang ke rumah tante karena aku tetap saja tidak mau tidur di rumah mama, karena kulihat sikap ketidak pedulian mama.   Aku sangat bahagia sekali memiliki adik, seperti punya mainan baru, tetapi lagi - lagi aku kembali dibuat bingung dengan sikap mama, mamapun tidak mengurusi adikku sama seperti tidak mengurusku, dia hanya mengurusi kami kalau di depan papa, persis seperti ibu tiri, atau mungkin lebih kejam mamaku daripada ibu tiri.


          Karena sikap mama adikkupun sering sakit - sakitan, adikku mengalami persis seperti apa yang kualami, dia sering panas tinggi dan sering diare, tetapi badan adikku tidak kurus seperti aku dulu.  Saat adikku berumur 1.5 tahun tiba - tiba dia terkena diare tidak berhenti - henti, mama hanya memberi obat - obatan sekedarnya, setelah 3 hari terkena diare tiba - tiba badannya panas sangat tinggi, untung waktu itu tante datang ingin menjemputku sepulang dia kerja, sudah beberapa hari ini yang mengantar jemputku adalah pembantu.


         Alangkah terkejutnya tante melihat kondisi adikku, dia segera membawa adikku ke Rumah Sakit, adikkupun dirawat, dan lagi - lagi kejadian yang terjadi padaku terulang pada adikku, adikku koma dia sudah terlalu banyak kehilangan cairan, karena badannya gemuk dan kondisinya sudah parah suster bilang urat - urat nadinya sudah mengecil, suster kesulitan untuk memasang infus, akhirnya mengambil urat nadi dikaki , dengan cara membelek  daging kaki baru bisa menusukan jarum infus, tak bisa kubayangkan betapa menderita dan sakitnya adikku, aku dan tante menangis melihat pemandangan seperti itu, tapi tidak dengan mamaku, saat itu rasa benciku pada mama tak bisa kukendalikan lagi, kuberlari kearah mama, kupukuli mama dengan tangan kecilku.


          Disaat adikku koma , lagi - lagi tanteku berdoa, " ya....Allah seandainya anak ini masih bisa sembuh, sembuhkanlah dia tapi kalau sudah tidak bisa, ambilah dia ya ....Allah, daripada dia hidup menderita dengan orang tua yang tidak bertanggung jawab." Tante memegang tangan mungil adikku, sambil menciuminya, " Iman sayang kamu masih kuat nak? Kalau kamu masih kuat bangunlah sayang, tapi kalau kamu sudah tidak kuat lagi, pergilah....kembalilah pada-Nya, Allah lebih menyayangimu daripada Mamamu, " tiba - tiba tangan mungil yang sedang digenggam tanteku terkulai lemas, adikku telah pergi......


         Aku sangat terpukul dengan semua ini apalagi sejak kepergian adikku, kali ini tante sama sekali tidak mengijinkan aku untuk ke rumah mama, dia takut aku mengalami hal yang sama dengan adikku, tapi sesungguhnya tanpa dilarang sama tantepun aku tidak ingin bertemu dengan mama, kepergian adikku begitu menorehkan luka dihatiku, dan menyematkan rasa benciku pada mama, okelah aku bisa memaafkan perlakuan mama kepadaku, tapi tidak dengan perlakuannya kepada adikku yang menyebabkan kepergian adikku.


        Sejak meninggalnya adikku dan kesibukan tante ditempat kerjanya yang tidak bisa ditinggalkan,  akhirnya tantepun memutuskan untuk membawaku ke Medan dan disana aku tinggal bersama nenek dan kakekku dari papaku, akupun hidup tentram jauh dari mamaku, walaupun bayangan - bayangan yang menyakitkan dimasa lalu sering kali muncul, tetapi pendidikan agama yang kudapatkan bisa sedikit demi sedikit meredamnya. Hanya satu pertanyaan yang sampai saat ini masih menari - nari dibenakku, pertanyaan itu untuk mamaku, APA SALAH KAMI MAH???? Mengapa mama begitu tega pada kami????. 

Jumat, 13 Juli 2012

Indra ke Enam

Aku seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki seorang gadis kecil yang cantik.
Sejak kecil aku sudah memiliki kelebihan, aku memiliki indra ke 6, aku seakan-akan hidup di 2 alam, aku bisa melihat dua kehidupan yang berbeda, tapi alhamdulillah Allah memberiku kekuatan untuk menjalani ini semua.   

Tak jarang mahluk - mahluk dari alam lain itu, menggodaku bahkan mengajakku untuk bersekutu, tapi aku selalu berlindung kepada Allah untuk semua godaan - godaan itu.

Waktu aku masih gadis, aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah restoran, suatu hari aku dapat giliran shift ke 2, keluar dari restoran kira kira jam 12 malam, aku berdua temanku menuju statsiun kereta api, kami akan naik kereta jurusan Jakarta -Bogor, karena rumah kami di Bogor.

Sesampai di statsiun tiba - tiba  ada kereta berhenti, temanku langsung loncat naik ke kereta itu,sementara aku masih tertegun di bawah, tiba - tiba tanganku ditarik oleh temanku, akhirnya akupun naik, karena kebetulan kereta penuh kami berduapun terpaksa berdiri.

"Ko tumben jam segini kereta penuh ya nit?" tanya temanku sambil berbisik.
Aku tak menjawab apa - apa,  tiba - tiba berbagai aroma tak sedap menusuk hidung kami,
"Bau apaan sich ini?" temanku kembali bertanya. Aku tetap tak menjawab pertanyaanya..
"Nit ko ditanya diam saja sich? kamu mencium bau busuk tidak nit?'
"sudahlah diam saja jangan cerewet, jangan banyak tanya, kamu lihat   ke depan  saja, jangan tengak tengok?"
"Emang ada apa Nit?"
"sudah aku bilang kamu diam saja." jawabku agak jengkel.

Tak lama kamipun sampai di statsiun Bogor, begitu kereta itu berhenti aku langsung menarik tangan temanku untuk turun, temanku terheran - heran.
"Kok cepat sekali yach sampainya? masa Jakarta-Bogor cuma 1 menit."
"Sudah jangan banyak tanya nanti di rumah kuceritakan semua."
Karena penasaran ingin mendengarkan ceritaku, akhirnya temankupun nginap di rumahku.

sesampainya kami di rumah dia langsung bertanya kepadaku.
" Tadi ada apa sebenarnya Nit?"
"Tadi itu kita naik kereta setan." jawabku.
"Hah....."  temanku tercengang .
"Tadikan aku sudah tidak mau naik kereta itu, tapi kamu menarik tanganku, yach.. terpaksa dech aku naik."
"Kenapa kamu tidak bilang - bilang Nit," kata temanku sambil  menggoyang - goyangkan badanku.
" Repotlah kalau kamu tahu, bisa - bisa kamu pingsan, trus yang mau ngangkat kamu siapa?
" Jadi siapa orang - orang yang ada di kereta tadi nit?" tanya temanku     sambil tengok kanan dan kiri,lama- lama dia menggeser duduknya mendekati aku, aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
" Betulan nich mau aku ceritain ? belum apa - apa kamu sudah ketakutan seperti itu," dia menganggukan kepala tapi tangannya memengang erat tanganku.
" Mereka itu korban kecelakaan kereta api, kalau kamu melihat wujud mereka tadi pasti kamu pinsan, ada yang lidahnya menjulur, ada yang kepala buntung, ada yang matanya keluar, ada yang mengeluarkan darah dari kepala, wah pokoknya macam - macam bentuknya, " tiba - tiba temanku memeluk erat tubuhku.
                                              

                                                               **************
Kini setelah menikah aku bekerja disebuah pabrik, dari pertama masuk bekerja aku sudah merasakan banyak sekali mahluk - mahluk penghuni pabrik itu yang bisa dibilang sangat usil, mereka cenderung mengganggu karyawan - karyawan pabrik terutama mereka yang pikirannya selalu kosong, sering melamun dan tidak pernah mengingat Allah.

Mereka selalu menggodaku dan selalu bilang ingin berkenalan dan berteman denganku, aku selalu menolak setiap permintaan mereka, tak jarang ada yang mengikutiku sampai rumah, tak jarang juga mereka berusaha untuk menganggu anak dan suamiku, aku selalu berusaha mengusir mereka dengan cara berlindung kepada Allah .

Begitu usilnya mahluk - mahluk itu terkadang sampai telphon genggamkupun disabotase oleh mereka, kalau aku sedang bekerja, hand phonku selalu kuletakan didalam laci meja kerja, terkadang  teman2 atau atasanku yang ingin menghubungiku dilapangan, mau tidak mau mereka harus menelponku ke HP, tapi mereka bilang selalu suara anak- anak atau suara laki- laki, atau suara perempuan yang tertawa cekikikan yang mengangkatnya, mereka pikir HP tertinggal dirumah, aku bilang kalau hand phonku selalu kutinggalkan dilaci meja, sejak itu kalau sedang jam kerja tidak saru orangpun yang berani menelponku.

Begitu banyak kejadian - kejadian aneh yang kualami,  kalau yang tidak kenal siapa aku mungkin akan berpikir kalau aku ini agak gila, karena tak jarang aku terlihat bicara sendiri, padahal aku sedang berbicara dengan mahluk - mahluk dari alam yang berbeda, terkadang aku kelihatan sering seperti orang bengong padahal aku sedang memperhatikan kehidupan di alam lain yang tidak semua orang bisa melihatnya.

Ya.....Allah aku tahu semua ini adalah anugerah dari - Mu, aku hanya memohon kepada - Mu, kuatkanlah selalu imanku dan bimbinglah selalu aku agar selalu berada dijalan - Mu.

Minggu, 08 Juli 2012

Tahajud Yang Melindungiku

Aku adalah seorang petani biasa, anak pertamaku perempuan dan anak.ke duaku laki- laki, anakku yang laki- laki sudah setahun ini terkena penyakit Exim basah dikedua kakinya. Obat - obat dari Puskesmas tidak bisa menyembuhkannya, aku tidak bisa membawa anakku berobat ke Rumah Sakit atau ke membawanya ke spesialis kulit karena pendapatanku yang cuma pas - pasan buat makan. Obat - obatan tradisioanl sudah kucoba semua tetapi penyakitnya tidah kunjung sembuh juga, tetapi aku dan istriku tidak pernah jera untuk selalu mencoba setiap ada yang menyarankan obat ini dan itu pasti aku akan berusaha mencari dan mencobanya walaupun nanti hasilnya nihil. Suatu waktu ada seorang teman yang menyarankan padaku untuk memberi anakku makan daging ular , " insya Allah nanti korengnya sembuh." katanya. Awalnya aku agak ragu - ragu tapi aku akan mencoba mencari daging ular itu. Sore itu sepulang bekerja di sawah aku asyik berjalan sambil menikmati suasana sore yang sangat cerah, tiba - tiba seekor ular berwarna hitam berukuran sedang melintas dihadapanku, dengan spontan kuayunkan cangkulku dan tepat mengenai kepala ular itu, dalam sekejap ular itupun terkapar. Sesampai di rumah kukuliti ular itu lalu dagingnya dimasak oleh istriku, setelah matang diberikan padaku untuk dimakan, aku bilang pada anakku itu daging belut karena takut dia tidak mau memakannya kalau tahu itu daging ular, anakkupun memakannya tanpa banyak tanya. Selasai Shalat isya seperti biasa kecapean, kira - kira jam setengah 12 malam tiba2 aku terbangun kaget, seperti ada yang membangunkanku, aku terduduk dipinggir tampat tidur, kulihat anak dan istriku tertidur lelap, "astghfirullah al'azhim," gunamku sambil mengusap muka. Malam ini kurasakan sangat sunyi sekali sekali dan kurasakan ada hal - hal yang aneh yang membuat bulu kudukku merinding, biasanya aku terbangun jam 3 malam, biasanya aku sholat Tahajud dan dilanjukan dengan membaca Al - Qur'an sampai menjelang sholat Subuh lalu aku sholat Subuh di Masjid. Tapi karena malam itu aku terbangun lebih awal kupikir lebih baik aku berniat Tahajud lebih awal, akupun langsung beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, untuk menepis perasaan - perasaan aneh yang menggangguku, aku terus beristigfar dalam hati. Akupun memulai sholat Tahajud dan perasaanku muali tenang, tepat jam 12 malam tiba - tiba angin diluar sana terdengar sangat kencang dan bulu kudukku kembali merinding, selasai sholat kuambil Al - Qur'an dan aku mulai membacanya. Tiba - tiba samar - samar kudengar suara kuda, suaranya semakin lama semakin jelas, pasukan berkuda itulah tepatnya, anak - anak dan istrikupun terbangun karena mendengar suara tersebut, karena merasakan ada yang aneh, segera aku menyuruh anakku yang besar dan istriku untuk segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat, sementara anakku yang kecil aku pangku dan aku terus melanjutkan membaca Al - Qur'an. Suara - suara kuda itu seperti berputar mengelilingi rumahku, tiba - tiba kudengar suara - suara memanggil - manggil namaku. " Imbron...Imbron......keluarlah, mari ikut dengan ke Istana, kau harus bertanggung jawab karena telah membunuh pangeran kami," suara itu begitu jelas sekali. Aku menyarankan kepada keluargaku untuk tetap tenang dan terus melanjutkan Tahajud, sedangkan aku tetap membaca Qur'an, aku semakin tahu yang kuhadapi ini bukan manusia. " Imbron...Imbron cepatlah keluar, kamu harus ikut dengan kami ke istana, keluarlah ..Imbron, kami tidak bisa masuk ke dalam rumahmu, rumahmu seperti dipagari sesuatu yang membuat kami merasa panas," suara - suara itu terus terdengar, semakin lama aku semakin bisa mengendalikan rasa takutku, begitu juga dengan anak dan istriku, kami bertiga membaca Qur'an dengan khusu, tak kuhiraukan lagi suara - suara panggilan itu, dihatiku hanya ada satu keyakinan Allah sedang melindungiku dan keluargaku. Menjelang Subuh suara pasukan berkuda itu terdengar pergi meninggalkan rumahku. Setelah semuanya tenang istriku bertanya kepadaku. "Sebenarnya apa yang terjadi pak? Mengapa mereka bilang ingin membawamu ke istana karena kamu telah membunuh pangeran mereka, apa maksudnya? aku tidak mengerti, tanya istriku. "Akupun tidak tahu bu," jawabku. "Coba bapak ingat - ingat lagi, atau mungkin ular yang bapak bawa tadi, dimana bapak mendapatkannya?" Tiba - tiba aku teringat, oh....iya aku membunuh ular itu didekat dua buah batu yang sangat besar yang orang bilang itu tempat pemujaan. " Iya bu aku baru ingat aku membunuh ular itu didekat dua batu besar yang orang bilang itu tempat pemujaan." " Ya ampun pak kenapa bapak gegabah?" tanya istriku sepertinya sangat cemas. "Ya sudahlah bu, semuanya sudah terjadi, kita hadapi saja semua, insya Allah tidak akan terjadi apa - apa dengan keluarga kita, seperti malam ini Allah telah melindungin kita sekeluarga." Dimalam - malam berikutnya pasukan berkuda itu kembali datang, tetapi kali ini kami sudah semakin siap menghadapinya, karena kami yakin Allah selalu bersama kami dan akan terus melindungi kami lewat Tahajud kami. Kejadian - kejadian aneh itu berlangsung selama satu minggu, dan alhamdulillah setiap mereka datang untuk menjemputku, aku dan keluargaku sedang melaksanakan sholat Tahajud, setelah seminggu berlalu mereka tidak pernah datang lagi. Alhamdulillah ya....Allah, Engkau telah melindungiku dan keluargaku lewat Tahajud kami, dan maafkan aku ya....Allah yang tidak sengaja telah mengganggu kehidupan mahluk lain.

Anak - Anakku Sayang

Suatu saat nanti aku akan menjadi renta dan aku tak lagi ramah...dan mungkin tak mengenali diriku lagi... Ketika aku berantakan saat aku makan...tidak dapat lagi mengenakan pakaian dengan baik. Ingatlah waktu dimana aku pernah mengajari semuanya kepadamu. Jika aku berbicara kepadamu...dan mengulangi kata-kataku beberapa kali...dengarkanlah aku, dan jangan kau marahi aku. Saat kau masih kecil, aku mengajarkanmu agar kau mengenal Tuhanmu, bernyanyi dan membacakan cerita beberapa kali hingga kau tertidur lelap. Ketika aku tak mampu mandi sendiri, jangan marahi aku atau tak mau membantuku mandi. Aku telah membantumu dengan ikhlas sampai engkau mampu mandi secara mandiri. Ketika aku tak mengerti perkembangan teknologi di zamanmu, berilah aku kesempatan untuk mengertinya, jangan kau berikan aku senyuman yang menyakitkan. Aku telah mengajarkan semuanya kepadamu...untuk makan dengan baik...berpakaian yang rapi...untuk menjadikan hidup ini menyenangkan untukmu. Ketika saatnya nanti ingatanku sudah mulai tidak baik atau pengucapanku sudah mulai tak teratur...berikan waktumu agar aku bisa mengingatnya kembali...Dan bila aku tak mampu mengerjakannya, janganlah kau panik. Pada saat seperti itu yang terpenting bukan apa yang aku hendak katakan, tetapi yang lebih penting adalah tunjukkan bahwa kau mendengarkanku. Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku, karena aku tau persis kapan aku ingin makan atau tidak Ketika kakiku mulai renta...tak mampu untuk berjalan...jangan hanya tongkat yang engkau berikan kepadaku... Ulurkanlah tanganmu...persis seperti yang aku lakukan ketika engkau baru pertama kali berjalan. Ketika saatnya tiba dan aku katakan kepadamu bahwa aku aku tak akan hidup lebih lama lagi...jangan marah...suatu saat nanti kau pasti faham akan hal itu. Cobalah mengerti...bahwa usiaku bukanlah kehidupanku, tetapi bagaimana aku bisa bertahan hidup. Suatu saat nanti kau akan temukan, mungkin dengan kesalahan yang pernah kubuat...aku selalu mengerjakan yang terbaik untuk dirimu. Janganlah terlalu sedih...marah atau menganggap penting melihat aku ada di sisimu. Engkau akan menjadi pewarisku, berusahalah untuk mengerti dan membantuku sama seperti aku membantumu ketika awal kehdupanmu. Bantu aku berjalan...Bantu aku mengakhiri jalanku dengan cinta dan kehangatan. Aku hanya bisa membayarmu dengan senyuman manis dan cintaku yang tulus yang selalu aku berikan kepadamu Aku mencintaimu...anak-anakku. (Ayah & Ibu)